cerpen

KESURUPAN
Cerpen : Ngarto Februana

Kolonel Antonio da Costa membisu seribu bahasa. Mulut terkatup rapat. Mata kering. Dingin. Hati membaja. Tabah tak tergoyahkan. Keras tak terpatahkan. Dengan tenang ia melepas kepergian putra tunggalnya, Jose Rosario Ximenes, menuju alam keabadian.

Mendung menggelantung tebal di langit kelam. Suasana muram duka cita mengiringi iring-iringan pelayat menuju kuburan Santa Cruz. Semua diam tercekam, kecuali Pendeta Bernandino yang khidmat membaca doa, ketika peti jenazah diturunkan. Kolonel Antonio da Costa menunduk, memandang peti mati dengan dingin dan tabah. Terlalu muda dia pergi, ucapnya dalam hati.

Tiba-tiba anak usia belasan tahun mengejang tubuhnya. Matanya melotot merah. Mulutnya mengeluarkan suara yang bukan suaranya sendiri. “Bukan! Bukan kecelakaan. Bukan dikeroyok orang. Ia dibunuh oleh…hap!” Ayahnya, seorang polisi dengan pangkat letnan satu segera membungkam mulut anak muda yang tiba-tiba kesurupan itu. Ia segera dibawa pulang.

Kolonel Antonio da Costa hanya melirik sekilas ke arah anak muda yang tiba-tiba ngoceh itu. Hatinya tetap dingin. Upacara pemakaman pun tetap berlangsung dengan khidmat, haru, sedih, dan penuh duka cita.

Petir menyambar seakan merobek lembar langit. Gelegarnya mencambuk bumi. Angin bertiup kencang. Pohon-pohon cedar bergoyang panik. Pemakaman usai. Dan hujan pun turun. Lebat membabi buta tak kenal ampun. Pengantar jenazah sibuk membuka payung. Ada yang berlarian menyelamatkan diri dari guyuran air hujan yang ditumpahkan dari langit. Seorang anak muda memayungi pendeta. Tapi Kolonel Antonio da Costa hanya diam terpaku memandang batu nisan yang tertulis nama putra tunggalnya. Angin kencang tak dihiraukan. Lebatnya hujan tak dipedulikan. Terlalu cepat dia pergi, bisiknya dalam hati.

“Mari pulang Kolonel,” ajak Pendeta Bernandino. “Silakan pulang dulu, Pendeta. Biarkan saya di sini,” tampiknya dengan suara berat yang terhalau gemuruh hujan.

“Pemakaman sudah selesai, komandan. Kita pulang,” kata kopral Guido, salah seorang pengawalnya.

“Biarkan aku sendiri di sini, goblok!” bentak Kolonel Antonio.

“Siap! Saya goblok!” jawab kopral Guido patuh.

“Pergi!” bentaknya lagi pada lima orang pengawalnya.

“Siap!” jawab pengawal serentak.

Tak ada yang berani membantah lagi. Pendeta pun pulang bersama anak muda yang mengawalnya. Para pengawal pribadi Kolonel keluar dari kuburan dan menunggu sang komandan di dekat mobil yang diparkir di tepi jalan. Kuburan itu pun sepi. Tinggal dia satu-satunya. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Kolonel tak peduli. Lalu ia mencabut pistol dan menembakkan tiga kali ke udara.

Hujan makin menggila. Petir menyambar-nyambar. Angin kembali berhembus kencang. Batang cedar tak jauh dari Kolonel berdiri patah. Kolonel diam tak bergeming. “Aku meragukan sebab kematian anakku,” gumamnya pelan dan suaranya tertelan riuhnya hujan. Lalu ia melangkah meninggalkan pekuburan.

* * *

Kolonel Antonio da Costa, komandan tempur divisi “Beruang Hitam” itu menghisap sebatang cerutu. Ia duduk dengan tenang di beranda rumahnya. Sudah tiga gelas anggur asli dari Paris dite-guknya. Ia lebih banyak diam merenung. Sementara itu, Pendeta Bernandino nampak gelisah menemani sang Kolonel.

“Pendeta, apa perlunya kita berperang dengan bangsa sendiri?” Sorot mata Kolonel berubah sayu seperti tatapan mata seorang humanis kepada pengemis tua. “Korban makin banyak. Rakyat tak berdosa turut menanggung beban perang. Apa yang kita cari?” “Kenapa Kolonel bicara seperti itu?” Pendeta balik bertanya. “Apakah Kolonel jadi ragu dengan peperangan ini?”

“Saya seorang prajurit, Pendeta. Saya mematuhi segala kebijakan para Jendral dan politisi negeri ini. Saya orang lapangan yang memimpin pertempuran demi pertempuran yang tak pernah berakhir. Karena yang kita perangi adalah diri kita sendiri. Bangsa kita sendiri.” Kolonel diam sejenak. Menghisap cerutunya. Lalu meneguk sisa anggur yang tinggal separuh gelas. “Sesungguhnya saya punya pikiran sendiri tentang masa depan negeri ini. Saya tidak habis mengerti, kenapa pemerintahan negeri ini bermaksud bergabung dengan negara tetangga, membentuk negara serikat. Dan kita menjadi negara bagian. Apakah ada jaminan, nasib kita akan lebih baik daripada menjadi negara merdeka berdaulat penuh seperti sebelumnya.”

“Maaf Kolonel, sebenarnya itu adalah pendirian…,” tukas Pendeta.

“Benar. Itu pendirian kaum pembrontak yang tidak menginginkan negeri ini bergabung dengan negara tetangga,” Kolonel balik memotong. “Secara pribadi saya setuju dengan pendirian kaum pembrontak. Tapi saya abdi pemerintah. Anda mengerti, Pendeta?”

“Saya mengerti. Saya mengerti.” Pendeta mengangguk-angguk.

“Saat ini saya sedang sakit, Pendeta. Mungkin anda tak melihatnya. Saya nampak tegar, kokoh, tabah, dingin, berhati baja. Tapi sejak kemalangan yang menimpa keluarga, saya jadi berpikiran lain. Istri saya membelot. Ia berpihak pada kaum pembrontak. Anak tunggal saya dibunuh orang. Saya yakin, ia bukan mati kecelakaan, tapi sengaja dibunuh orang. Saya yakin, bukan kaum pembrontak pelakunya, tapi….” Kolonel tak meneruskan kata-katanya. Ia memandang di kejauhan. Ia melihat seorang anak muda tengah berlari seperti orang gila. “Pengawal!”

“Siap, Komandan!” dua orang pengawal menghadap dengan sikap sempurna.

“Tangkap orang gila itu. Bawa kemari!” perintah Kolonel.

“Siap!” Dua orang pengawal segera menangkap anak muda dan membawanya ke hadapan Kolonel.

“Memang saya hendak kemari, Kolonel. Saya ingin memberikan kesaksian,” kata anak muda bernama Carlos, anak kapten polisi.

“Siapa kamu?” tanya Kolonel.

“Dia anak kapten polisi Boromeo yang kemarin kejang-kejang saat pemakaman putra Anda,” jawab seorang pengawal.

“Diam kamu, goblok!” bentak Kolonel.

“Siap! Saya goblok!” jawab pengawal.

“Bukan! Saya adalah saksi mata pembunuhan Jose Rosario Ximenes,” bantah Carlos dengan suara yang bukan suaranya sendiri. “Putra Anda dibunuh oleh Kapten Polisi Boromeo!”

“Boromeo ayahmu sendiri?” selidik Kolonel.

“Bukan. Dia bukan ayahku. Dia ayah Carlos yang tubuhnya sedang kurasuki ini,” kata Carlos.

“Oh, Tuhan,” ucap Pendeta. “Anak ini kesurupan. Ada arwah yang merasuki tubuh Carlos.”

“Teruskan bicaramu!” perintah Kolonel.

“Anak anda dibunuh karena secara tidak sengaja mengetahui skandal sex walikota. Kapten polisi Boromeo disuruh membunuh putra Anda oleh walikota,” tutur Carlos yang bukan suara Carlos sendiri.

“Ya, sudah! Pergi!” usir Kolonel.

“Oh, Tuhanku,” ucap Pendeta.

Kolonel masuk kamar. Lalu keluar lagi dengan pakaian tempur. Senjata M-16 ada digenggamannya. Wajahnya garang. Mata merah. Mulut terkatup. Dingin. Keras tak terpatahkan.

“Pengawal!” panggil Kolonel.

“Siap! Komandan!” Lima orang pengawal siap menerima perintah apapun.

“Ikut aku!”

“Siap!” serentak jawab kelima pengawal.

Malam itu juga Kolonel menyatroni rumah Kapten Polisi Boromeo. Seisi rumah dihabisi. Kapten Polisi Boromeo tewas dengan tujuh butir peluru bersarang di dada dan perut serta kepala. Carlos
sendiri sudah siuman dari ‘kesurupannya’. Tapi ia tak luput dari amukan peluru. Kolonel belum puas.Ia menyerbu rumah walikota dan menembak kepala sang walikota.

“Pengawal!”

“Siap! Kolonel!”

“Kita ke markas dan bawa semua pasukan masuk hutan. Kita bergabung dengan kaum pembrontak!” perintah Kolonel dengan dingin.

Kopral Guido terperanjat. Dengan keberanian bulat ia menodongkan senapan M-16 ke arah Kolonel. “Anda sudah gila, Kolonel. Kita tak mungkin berkhianat.”

Tapi pengawal lain lebih cepat bergerak. Kopral Guido tewas oleh peluru pengawal lain.

“Sudah saatnya kita jadi pengkhianat!” kata Kolonel dingin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: